FF : BROKEN LIFE (ONE SHOOT) [ANGS~]

BROKEN LIFE

==========================================================

TITLE : BROKEN LIFE [ONE SHOOT]

GENRE : ANGS…

CAST :

~CHOI MINHO

~YOO-GEUN

~LEE DONGHAE

~JUNG JESSICA

~KANGIN AS  APPA

~TAEYEON AS EOMMA

~CHOI SIWON AS CAMEO

AUTHOR : CHOI ANDREW

======================================================

#Minho POV

Ketika aku sakit, sakit tak begitu parah, namun tubuh ku ini tak memungkinkan untuk menjalani aktifitas seperti biasa, aku berebah di kasur ku, menghilangkan pening yang berputar di kepala ku, berharap ada seseorang yang masuk ke kamar ku, memberi obat atau memberi  sesuatu untuk menyembuh kan ku, tapi itu tak mungkin, karna semua orang di rumah ini tak ada, yang ada hanya si bungsu dongsaeng-ku Yoo-Geun, ia berusia 4 tahun, dimana kepribadian yang lugu dan polos melekat di diri nya, pada saat-saat seperti ini pasti ia sedang berada di taman belakang rumah, bermain pasir bersama pengasuh nya. Jika kau ingin bertanya di mana Eomma ku, Eomma ku berada di salon milik nya,keseharian nya adalah mengembangkan usaha nya itu, biasa nya ia pulang jam 8 malam dan kadang-kadang ia tak pulang sama sekali, entah kemana ia pergi, aku tak pernah menanya kan nya. Appa-ku, ia adalah salah satu pengusaha Sukses yang sudah mempunyai  nama tertinggi di Korea, ia tak pernah pulang, keberadaan nya di rumah tak pernah tentu, kadang-kadang ia pulang hanya untuk menyimpan barang-barang nya saja, dan setelah itu ia pergi lagi, ia pernah bilang bahwa ia mempunyai Apartemen pribadi,namun kita semua tak tahu dimana apartemen nya berada. Aku mempunyai Hyung yang bernama Donghae, ia anak Sulung,dan keseharian nya hanyalah Hang-out bersama teman-teman nya, kuliah nya tak pernah kelar, dan ia terkenal Playboy, wajah nya tampan dan menawan, tak heran jika ia mempunyai banyak  kekasih, ia sama saja seperti Appa dan Eomma, keberadaan nya tak pernah ada di rumah semenjak Appa dan Eomma sibuk dengan urusan nya masing-masing. Dan satu lagi, aku mempunyai Nunna cantik yang bernama Jessica, ia adalah anak ke dua di anatara kami, ia seorang Modeling cantik dan sudah mempunyai kontrak ekslusif dengan majalah wanita terkenal di Korea,di antra yang lain nya, ia lah yang sering pulang ke rumah, meski kehadiran nya di rumah hanya untuk berganti pakaian dan tidur saja. Ia terkenal arogan dan sombong, bergaya glamour dan membuat orang-orang mencibir nya. Dan sedang kan aku, aku hanyalah murid SMA yang biasa saja, meski popularitas ku terkenal di sekolah karna wajah menarik dan latar belakang keluarga ku yang sukses, aku berpenampilan seperti murid yang lain nya, dan aku termasuk anak yang kurang bergaul dan tak suka dengan keramaian.

Kepribadian ku berubah semenjak ketidak harmonisan keluarga yang ku punya, padahal waktu dulu aku adalah anak yang sering bergaul dan mempunyai banyak teman, aku mulai tersudut saat Appa dan Eomma ku mulai sering bertengkar, saat mereka jarang ada di rumah, saat mereka tak lagi meluangkan waktu nya untuk berkumpul dengan keluarga, jujur saja aku iri pada teman-teman ku semua, dari situ lah aku mengurungkan diri menjadi orang yang penyendiri. Pulang sekolah aku langsung pulang, bermain dengan Yoo-Geun atau bermain game di kamar ku, aku mencoba lebih sering memberi waktu ku untuk Yoo-Geun, karna aku pikir di usia nya yang sangat begitu muda, ia pasti sangat membutuh kan rangkulan dari orang tua dan keluarga nya, dan nyata nya, semenjak ia lahir dan sampai sekarang Yoo-Geun tak pernah mendapat kan itu semua, bisa di bilang bahwa Yoo-Geun itu adalah anak yang tumbuh dengan kekurangan kasih sayang dari orang tua nya, dan untung saja Yoo-Geun tumbuh tanpa tekanan mental yang menyimpang.

Saat itu aku sedang sakit, sakit tak begitu parah, namun tubuh ku ini tak memungkinkan untuk menjalani aktifitas seperti biasa, aku berebah di kasur ku, menghilangkan pening yang berputar di kepala ku, tiba-tiba pintu kamar ku terbuka pelan, pelan-pelan aku pun membuka mata, dan melirik ke arah pintu, Ternyata Yoo-Geun sedang melihat ku aneh di ambang pintu.

“Hyung, Gwenchana?” Tanya nya polos dengan suara nya yang sangat cempreng.

“ah, Hyung hanya pusing sedikit,sebentar lagi hyung sembuh kok!” ucap ku pada Yoo-Geun, tanpa bertanya macam-macam lagi ia langsung pergi ke luar, aku yang melihat nya hanya menggeleng kepala dan tersenyum manis melihat anak itu. Tak lama kemudian Yoo-Geun kembali muncul di ambang pintu, kali ini ia membawa segelas air putih dan bungkusan yang berisi obat-obatan.

“apa itu?” Tanya ku sambil menunjuk ke bungkusan yang di bawa Yoo-Geun.

“Obat!, minumlah ini!, kau ingat saat aku sakit lalu?, kau memberikan aku obat ini, dan setelah aku minum obat ini aku sembuh!” ucap nya polos sambil membukakan bungkus obat itu dengan gigi nya. Aku tertawa ringan dan lagi-lagi aku menggeleng melihat anak ini, karna ia memberikan aku obat untuk anak-anak.

“kenapa kau tertawa?, minum ini cepat, kau tak ingin sembuh?, kau tak ingin bermain dengan ku lagi hah?” ucap nya dengan bergaya seperti orang dewasa, aku ingat kata-kata itu adalah kata-kata yang ku katakan pada saat ia sakit dulu.

“Yoo-Geun ku sayang, itu obat untuk anak-anak, dan aku sudah dewasa dan harus nya aku meminum obat untuk orang dewasa juga! ” jelas ku pada Yoo-Geun, dan ia hanya diam mendengar penjelasan ku.

“terus di mana aku bisa mendapatkan obat untuk orang dewasa?, biar ku ambilkan untuk mu!” Tanya nya ingin tahu, benar-benar Yoo-Geun ini, aku sangat beruntung mempunyai dongsaeng seperti dia, hanya dia yang punya perhatian penuh pada ku, dan dia satu-satu nya orang yang khawatir dengan keadaan ku sekarang.

Week-End kali ini aku mengajak Yoo-Geun ke wahana permainan Dream-Land, karna sebelum nya aku pernah berjanji untuk mengajak nya ke sana, kita pergi hanya berdua, membawa Ransel besar yang berisi makanan ringan dan minuman segar, saat itu aku merasakan bagaimana senang nya hati Yoo-Geun, karna dari perjalanan kita kesana, ia selalu tertawa dan bernyanyi lagu anak-anak yang ia hafal.

“Hyung, bagai mana kita naik Gajah Dumbo itu dulu?” aku pun menuruti permintaanya, dan kita pun mulai mengantri untuk wahana itu, dan tiba-tiba Yoo-Geun terdiam tanpa suara, ia memandang pekat pada seseorang yang berada di depan dan tak jauh jarak nya dari kami.

“Eomma…!” tebak nya melihat seseorang yang di depan itu.

“apa?” Tanya ku heran.

“Eomma, Hyung! Aku melihat Eomma!” ucap nya polos sambil menunjuk orang yang ia maksud. Aku pun melihat nya lekat-lekat, memang benar, wanita yang di depan tak jauh dari kami itu mirip sekali dengan Eomma, rambut nya, baju yang ia kenakan, dan tas yang ia kenakan itu persis dengan yang Eomma punya, ia bergandengan dengan seorang lelaki tampan, perawakan nya sangat gagah dan tegap saat ku lihat dari belakang,yang pasti lelaki itu bukan Appa!.

“dia mirip Eomma, tapi ku pikir dia bukan Eomma!” ucap ku meyakin kan Yoo-Geun, tapi ku rasa Yoo-Geun tak mendengarkan apa kata ku, ia terus memandang ke orang itu, lalu ia berjalan ragu, tadi nya aku akan mencegah Yoo-Geun menghampiri orang itu, tapi aku biarkan karna aku sendiri ingin meyakinkan bahwa itu Eomma atau bukan. Yoo-geun menghampiri wanita itu, dan tiba-tiba ia memegang lengan wanita itu. Wanita itu kaget dengan tindakan Yoo-Geun, Yoo-geun tak berkata apa-apa selain memandang lekat wajah wanita itu.

“ahh…!!, Yoo-Geun, kau juga ada di sini?” ucap wanita itu yang ternyata benar-benar eomma. Yoo-Geun tak menjawab pertanyaan Eomma, sekarang pandangan nya beralih ke pria di samping Eomma.

“Yoo-Geun~ah, kau kesini dengan siapa?” Tanya nya lagi.

“dia siapa?” Tanya Yoo-geun datar sambil tetap memandang pria itu penuh Tanya.

“dia itu teman Eomma, dia pelanggan baik di Salon Eomma, nama nya Siwon Ahjussi!, ayo beri salam!” ucap Eomma menyuruh Yoo-geun memberi salam pada pria yang bernama siwon itu.

“Eomma jahat!, ke sini tanpa mengajak ku, apakah kau sering kesini?, Jujur saja!, aku kesepian di rumah, ternyata kau selalu sibuk bermain dengan Ahjussi itu!” ucap Yoo-Geun dengan nada yang bergetar, aku lihat wajah imut Yoo-Geun menggambarkan kekecewaan, Eomma yang tak bisa berkata-kata hanya bisa tertawa garing, aku pikir Eomma malu dengan pria di samping nya, dan pria itu hanya tersenyum mendengar kata-kata Yoo-Geun.

“Yoo-Geun~ah!!” teriak ku memanggil Yoo-geun, Yoo-GEun pun berlari ke arah ku, dan memeluk ku sambil menangis. Eomma pun beralih memandang ku, ia tersenyum pada ku namun aku buang muka, menggendong Yoo-Geun lalu pergi meninggal kan antrian. Mereka mengejar ku, dan Eomma sampai memegang pundak ku.

“Minho~ya, Changkaman!!” ucap Eomma dengan nada memohon, aku pun berhenti.

“Dengar kan Eomma, jangan salah paham!, apa yang kau lihat tak seperti yang kau pikir kan, dia hanya teman ku saja!” ucap nya mencoba supaya aku percaya.

“apakah aku bilang bahwa ia pacar mu?, tenang saja!, aku tak berpikir seperti itu, lanjut kan saja rencana mu hari ini, aku dan Yoo-Geun juga punya banyak rencana hari ini!” ucap ku cuek, berlagak tak berprasangka buruk pada nya, padahal jika ingin tahu, aku yakin sekali bahwa Eomma  berselingkuh dengan pria yang bernama siwon itu.

“jika kau tak berpikir seperti itu, kenapa kau menghindar dari ku, dan terlihat benci pada ku?” Tanya nya mencoba menggocek kata-kata ku.

“aku hanya tak ingin mengganggu mu!” ucap ku singkat.

“jika kau tak berpikir demikian, maka pergi lah bersama kami!” ucap pria bernama siwon itu, akhir nya ia bersuara juga, ia tersenyum manis pada ku, Cuuiiih~, kau pikir aku luluh dengan senyum palsu mu itu?.

Aku, Yoo-Geun dan mereka makan siang di sebuah pondok makan ayam di area Rumah Taman wahana permainan. Mereka mencoba asik pada ku dan Yoogeun, tapi kami hanya diam tak nyaman bersama mereka.

“kalian tampan sekali, ku rasa kalian setampan ayah nya!” ucap Pria itu mencoba memecah kan keheningan di antara kita.

“Anniyo!, Minho itu mirip aku, lihat saja mata nya cantik seperti aku kan!, dan lihat saja Yoo-Geun, bibir nya tipis seperti aku kan!” Jawab Eomma, aku rasa mereka benar-benar bodoh!, mereka bertanya pada kami, dan mereka pula yang akan asik berbincang, aku pun sudah muak dengan pujian-pujian penjilat dari Pria yang mempunyai senyum palsu itu.

“Hyung, aku ingin main kereta ulat!” pinta Yoo-geun pada ku, aku rasa Yoo-Geun juga sudah sangat Muak dengan keadaan ini, dan ini kesempatan kami untuk beralasan berpisah dengan mereka.

“kami akan bermain lagi, dan setelah itu kami akan pulang duluan!, maaf sudah merepotkan kalian!” ucap ku berpamitan pada mereka, namun Eomma meminta kami untuk pulang bersama mereka nanti, tapi aku menolak keras.

Ketika aku pulang sekolah, kali ini aku pulang agak larut malam, dan aku temukan semua sepatu anggota   di rumah ini telah lengkap terjajar rapih di sana, “Hmm… tumben sekali mereka ada semua di rumah?” ucap ku dalam benak. Saat aku masuk ke dalam rumah, keadaan rumah sangat sepi, namun lampu di seluruh ruang masih menyalah, aku pun mampir ke kamar Yoo-Geun untuk memberikan Choco PIE kesukaan nya, tapi Yoo-Geun tak ada di kamar nya. Kemana ia berada?, biasa nya di jam segini ia ada di kamar nya bermain Miniatur Power Rangers. Aku pun mendengar  suara kegaduhan yang terdengar senyap-senyap dari kamar Eomma dan Appa.

“Oh!, begitu ternyata!, kau punya apartemen baru untuk di tempati bersama istri simpanan mu hah!” ucap Eomma keras kepada Appa.

“jadi selama ini kau menguntit ku?, dan untuk apa kau cemburu pada nya?, dia lebih peduli pada ku dari pada kamu?, hanya menghabis kan uang ku saja untuk hura-hura!” balas Appa tak kalah keras dari Eomma.

“Uang?, sejak kapan aku menghabiskan uang mu?, Hallooo!!, sejak Yoo-Geun lahir kau mulai gila!, dan tak memberi ku uang sepeser pun!, aku hidup sendiri dengan uang yang ku hasil kan. Sadar lah!!” ucap Eomma membela diri nya sendiri.

Aku berdiri di tengah ruang tamu, berdiri mematung dengan pikiran ku yang kosong, mencerna semua perdebatan yang mereka bincang kan, aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan segera?, aku hanya anak yang seharus nya tak boleh mendengar perdebatan berat seperti itu, aku hanya seorang anak yang seharus nya mendengar ucapan-ucapan lembut dan manis yang di ucapkan oleh kedua orang tua ku. Tiba-tiba seseorang menggenggam pergelangan tangan ku, ia adalah Nunna ku, Jessica, ia menuntun ku ke kamar nya, dan setelah sampai di kamar nya, ternyata semua ada di sana, Yoo-Geun dan Donghae Hyung, semua sedang merenung, Ssica nunna pun menyuruh ku duduk. Kami ber-Empat duduk melingkar, ssica nunna menjatuh kan air mata nya, mata Donghae hyung sudah memerah, dan si kecil Yoo-Geun tertidur di pangkuan Donghae Hyung.

“apa yang sebenar nya terjadi?” Tanya ku memecah kan keheningan.

“Eomma menemukan Appartment yang selama ini di sembunyikan Appa, dan ternyata di sana Appa tinggal bersama wanita simpanan nya.” Jelas Donghae Hyung dengan nada yang sangat kesal. Aku pun  kaget dengan apa yang di katakana donghae hyung, ssica nunna kini menangis terisak.

“BERISK BERENGSEK!!, TANGISAN MU TAK MENGKELAR KAN MASALAH!!” bentak Donghae Hyung. Ssica nunna pun memeluk ku, dan menangis keras di pundak ku.

“apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya ku pada donghae hyung.

“ingin sekali ku membunuh Lelaki Brengsek itu!!” ucap Donghae hyung penuh dendam.

“Tak bisa!!, dia Appa kita!,apa kau tega membunuh nya?” ucap ku mencoba menenangkan hyung ku yang sedang emosi.

“Dengar Minho~ya!, kau masih menganggap nya Appa? , dan apakah kau tahu dia masih menganggap kita ini anak nya atau tidak hah?, yang ada di otak nya hanyalah wanita simpanan nya itu!” ucap nya dengan emosi yang membeludak.

Saat itu aku pulang sekolah dengan cepat, di sekolah hanya bekerja bakti membersihkan area sekolah, dan waktu masih menunjukan jam 10:00 KST. Aku pun memutus kan langsung pulang kerumah untuk menemani Yoo-Geun  bermain di rumah. Tetapi saat ku pulang ke rumah Yoo-Geun masih belum pulang dari Play Group nya, semua pembantu pun tak ada, hanya aku sendiri di rumah itu. Tiba-tiba aku berpapasan dengan seorang wanita cantik yg hanya mengenakan handuk keluar dari kamar Donghae Hyung, siapa wanita itu?, dan kenapa ia keluar dari kamar Donghae Hyung.

“Ya…!. Nugu~Yo?” Tanya ku pada wanita itu.

“dia Yeoja chingu ku!, kenapa?, ada masalah?” jawab Donghae hyung yang tiba-tiba muncul di belakang ku.

“kau tak pantas membawa seorang Yeoja ke rumah ini!, apa lagi sampai kau bawa ke kamar mu!, kau tak takut tetangga kita bergunjung tentang mu?, sudah cukup untuk mereka yang bergunjing tentang Eomma dan Appa Hyung!”  ucap ku mencoba menyadar kan donghae Hyung.

“Aissh… kau ini kolot sekali!,jika kau mulai dewasa pun kau akan mengerti dengan apa yang ku lakukan!” ucap donghe Hyung mengeyel.

“tak ada beda nya kau dengan Appa!” ucap ku agak keras.

“cerewet sekali!!” ucap nya singkat dan langsung menarik Wanita itu kembali kekamar nya.  Apa ini yang sering ia lakukan jika di rumah ini tak ada siapa-siapa?, makin hancur saja keluarga ini!, semoga Ssica Nunna bisa bertahan di jalan yang benar seperti aku dan Yoo-Geun.

Hari demi hari, keadaan di rumah  semakin hancur saja, Eomma yang sudah tiga hari tak kunjung pulang ke rumah, apa lagi appa, semenjak Eomma mengetahui ia mempunyai istri simpanan, ia tak pernah pulang, dan yang baru aku tahu adalah pakaian appa di rumah ini sudah tidak ada, entah kapan ia membawa semua pakaian nya itu. Ssica nunna, ia yang ku harapkan yang terbaik di keluarga ini ternyata sama juga dengan mereka, akhir-akhir ini ia pulang dengan keadaan mabuk, di antar oleh pria yang berbeda setiap malam nya, yang aku lakukan hanyalah mengelus dada, dan tak jarang aku menyeka air mataku sendiri yang jatuh tak sengaja. Kini di rumah ini hanya ada aku dan Yoo-Geun, semua pembantu ku mengundurkan iri karna suah tiga bulan belum di gaji oleh Eomma, dan kini setiap hari nya aku menitipkan Yoo-Geun di play-Group nya sampai aku pulang sekolah.

Ketika aku sedang di kelas, baru saja pelajaran matematik akan di mulai, tiba-tiba telepon genggam ku berbunyi, saat ku lihat layar ternyata itu panggilan dari Play-Group Yoo-Geun.

“Yeobseo?” jawab ku dengan sopan.

“Yobseo, Minho~ya, baru saja Yoo-Geun batuk mengeluar kan darah, apakah Yoo-Geun punya penyakit Dalam?” tanya guru play-Group itu, dari suara nya saja tergambar bahwa Guru Yoo-geun itu sedang panik sekali.

“Jinja..??, baik aku akan kesana sekarang!!” ucap ku tanpa banyak tanya, dengan panik aku pun berlari tanpa membawa tas dan peralatan sekolah ku, dan berpamitan dengan guru ku saja aku tak sempat, mereka yang di kelas saling bertanya-tanya dengan keadaan yang aku alami, aku terus berlari melintasi jalan yang berliku, matahari yang begitu terik sangat membuat ku dehidrasi.

“di mana Yoo-Geun?” tanya ku khawatir kepada guru Yoo-Geun yang sudah menantiku di gerbang sekolah Play-Group itu.

“dia sedang terlelap di UKS kami, aku rasa kau harus membawa nya segera ke rumah sakit, wajah Yoo-Geun hari ini sangat pucat sekali! ” ucap guru itu dengan gusar. Tanpa banyak bicara aku pun langsung mencari Yoo-Geun, dan saat ku menemukan nya, ia sedang tertidur pulas, aku baru melihat tidur nya yang pulas seperti kali ini, ia tertidur sambil tersenyum manis, seakan ia telah mendapatkan mimpi terindah nya.

“Yoo-Geun~ah!” ucap ku membangun kan nya. Dengan perlahan ia membuka mata, ia kaget melihat ku yang berada di depan mata nya.

“Hyung!!, kau panjang umur!, baru saja aku bermimpi tentang mu hyung!” ucap nya semangat sambil memeluk ku erat.

“oh ya?, mimpi apa?” tanya ku penasaran.

“aku bermimpi  kau memberi hadiah ulang tahun kepada ku, dan hadiah itu adalah kuda UniCorn bersayap indah, kau pun menyuruh UniCorn itu mengajak ku ke surga, aku pun terbang bersama UniCorn itu di langit yang tinggi, menembus pelangi, dan aku baru tahu bahwa di balik pelangi itu ada surga!, kata si UniCorn, aku adalah salah satu anak baik, dan anak baik itu tinggal nya di surga!. Dan kau tahu hyung?, surga itu indaaahh… sekali, tapi saat ku sedang lengah, UniCorn itu malah terbang meninggalkan ku di surga, aku menangis sekencang-kencang nya, karna aku tak ingin kehilangan mu hyung,  dan saat itu aku melihat tuhan, tuhan menghampiri ku, saat tuhan menghampiri ku kau malah membangun kan ku!” ucap Yoo-Geun polos menceritakan mimpi nya yang seru. Aku hanya tersenyum mendengar cerita nya.

“wah!, sayang sekali ya aku tak bisa melihat mimpi mu, jika aku bisa melihat mimpi mu, aku akan ikut ke surga, biar saja kita di tinggal oleh UniCorn di surga, kita akan bersenang-senang setiap hari nya!, oh iya apakah aku harus pinjam alat penyambung mimpi ke doraemon agar kau bisa mengulang mimpi mu dan aku bisa masuk ke dalam mimpi ku? hahaha” gurau ku pada Yoo-Geun, ia tertawa datar mendengar gurauan garing ku.

“oh iya, apakah di surga itu menyenangkan hyung?, kapan sih kita dapat ke surga?, liburan sekolah nanti lebih baik aku ke surga dari pada ke Disney Land!” ucap nya polos dengan ekspresi lucu nya.

“kita terlalu jauh jika ingin ke surga!, kau tahu?, tiket masuk surga itu lebih mahal dari pada tiket masuk Disney Land!,  kita kalau ingin ke sana harus menjadi orang yang baik, harus jadi orang yang sabar, dan jadi orang yang pemaaf, kalau kita sudah jadi orang yang seperti itu tuhan akan memberikan tiket itu dengan Cuma-Cuma! Arraseo!” jelas ku pada nya. Ia hanya mengangguk dan kembali memeluk ku.

Aku membawa Yoo-Geun Chek-Up ke rumah sakit specialis anak, dokter bilang Yoo-Geun mempunyai gejala paru-paru basah, dan ia harus mempunyai istirahat yang cukup dan mempunyai perhatian yang khusus dari orang-orang di sekitar nya, dan ia juga harus menjalani Rawat Jalan ke rumah sakit itu untuk mendapatkan pengobatan Khusus dari dokter nya itu. Dan kini aku harus memberi tahu Appa dan Eomma.

“Yeobseo Eomma!!” sapa ku dalam telepon.

“Hmm..” jawab Eomma singkat.

“aku harus memberi tahu ini!” ucap ku dengan nada yang sangat serius. “Yoo-Geun di diagnosis mempunyai gejala paru-paru basah!”.

“oh!, baru gejala ya?, kau harus menjaga nya dengan baik!, Sampaikan salam ku pada Yoo-Geun ya, aku tak bisa lama-lama berbincang dengan mu! Aku sedang sibuk! BYE…!” ucap nya singkat.

Apakah itu jawaban yang bagus dari orang tua yang mengetahui kabar bahwa anak nya yang sedang sakit serius?, apakah gejala yang di derita Yoo-Geun itu layak di katakan “Oh!”?, dan kenapa iya tak sekalian bilang “WOW” fantastic mendengar anak nya sedang sakit serius?. Lalu aku ingin mendengar reaksi appa.

“Yeobseo Appa!!” sapa ku dalam telepon.

“Ne… Minho~ya, waeo?” jawab Appa manis. Di sini aku mulai tersenyum, dan aku yakin Appa lebih peduli dari pada Eomma!.

“aku harus memberi tahu ini!” ucap ku dengan nada yang sangat serius. “Yoo-Geun di diagnosis mempunyai gejala paru-paru basah!”.

“bilang ke Yoo-Geun, nanti Appa akan pulang bawa mainan, sudah dulu ya!, Appa harus melanjutkan Meeting, orang-orang di sini sedang menunggu appa untuk melanjutkan nya!, Bye!” ucap nya manis. Dan ia pun memutuskan sambungan nya.

Manis sekali jawaban yang di lontar kan Appa!, Jadi Yoo-Geun akan sembuh jika ia pulang bawa mainan?, apakah itu jawaban yang pas saat ia mendengar anak nya sedang sakit? Sakit yang bagi ku parah!, aku tak mengerti, otak dan hati mereka terbuat dari apa?, apa otak dan hati mereka tertutup oleh dosa mereka?. Aku mencoba menelpon Donghae Hyung dan Jessica Nunna, tapi hasil nya Nihil, Oprator mereka bilang sang pemilik telepon sedang sibuk. Sibuk kah mereka?, sibuk mengerjakan apa?, sibuk Hura-Hura dan bermaksiat kah?, aku tak mengerti dengan semua ini!, aku berharap untuk Yoo-Geun tidak di lahirkan saja dulu, dari pada ia terlahir mempunyai keluarga yang tak utuh seperi ini?.

Pagi itu, aku baru menemukan lagi, dimana saat-saat kami berkumpul di ruang makan, Appa sedang membaca koran di kursi nya, Eomma juga sudah menyiapkan Roti bakar berlapis selai Apple, Donghae Hyung sedang asik di bangku nya sambil menelpon seseorang, sedangkan Jessica Nunna, ia sedang asik mengecat kuku-kuku nya sambil duduk manis di bangku nya. Yoo-geun, yang masih memakai Piama nya duduk diam di bangku nya, ia diam sambil melihat satu per satu orang yang ada di lingkaran meja makan, ia serasa menjadi orang asing di situ,  tak ada satu pun yang peduli pada nya, ia didiamkan seperti patung yang kaku, aku yang berada di samping nya mengajak nya mengobrol, tapi ia tetap diam. Mata nya kini fokus melihat Appa yang wajah nya telah tertutup koran.

“Appa!” sapa nya ragu.

“Hmm…” jawab Appa yang tak peduli dengan suara imut Yoo-Geun.

“boleh kah aku duduk di pangkuan mu?” ucap Yoo-Geun mengemis. Appa malah berdiri, ia melipat koran nya dan menaruh nya di meja makan, ia mengambil satu potong roti bakar bikinan Eomma.

“Appa sekarang sedang buru-buru!, nanti ku pangku setelah semua nya selesai ya!” ucap nya dengan aksara yang tak jelas karna roti yang penuh di dalam mulut nya. Ia pun langsung pergi meninggalkan kita semua. Yoo-geun hanya terdiam melihat punggung appa yang menjauh dan menghilang di perbatasan Ruang makan. Aku pun mengelus kepala nya, memberi kekuatan dan ketabahan pada diri nya.

Kini mata nya mendelik ke Eomma yang sedang  meng-makeup wajah nya, ia sedang siap-siap untuk pergi.

“Eomma!” sapa Yoo-Geun dengan nada yang parau…

“ne…??” ucap Eomma yang sedang konsentrasi pada kaca nya.

“tolong bikinin aku bubur ayam, tenggorokan ku sakit!, dan aku rindu masakan Eomma!” ucap nya lagi-lagi seperti orang yang mengemis.

“aduh!, mending beli saja!, Eomma sibuk sekali hari ini, nanti biar minho yang akan membelikan nya untuk mu ne!” jawab Eomma yang langsung buru-buru melipat kaca nya dan memasukan ke tas nya, ia langsung beranjak dari kursi nya dan lalu pergi. Kini Yoo-Geun  mulai sedih, mata nya berkaca-kaca namun aku pun segera menenangkan nya.

Kini di ruang makan hanya tinggal kami ber-empat, Nunna, dan Hyung ku tetap asik dengan dunia nya, Yoo-geun melepaskan dirinya dari pelukan ku, mata nya kini beralih ke Donghae Hyung.

“Donghae-Hyung!!” sapa nya, kali ini dengan ekspresi berseri. Dan itu berhasil membuat donghae Hyung mendongak dan melepaskan telepon genggam nya dari telinga nya.

“Hah?” tanya donghae Hyung.

“Gendong aku Hyung! Jebbal!!” ucap nya dan lagi-lagi mengemis. Aku tak tahu dengan apa yang di pikirkan anak ini?, apakah ia sedang mengetes semua orang yang telah mengabaikan nya?.

“aku sedang menelpon!” ucap nya menolak, ia pun langsung bangkit dari duduk nya dan pergi keluar. Dan aku tebak, pasti kali ini ia meminta sesuatu pada Jessica Nunna!. Benar saja, mata nya kini mulai terpusat ke arah Jessica Nunna!.

“Nunna!” ucap nya bergetar, karna kali ini ia hampir saja menangis karna tolakan Donghae Hyung.

“apa?” jawab Jessica Nunna dengan suara yang datar.

“aku minta tolong, bisa kah kau menyuapi ku?” pinta nya dengan sangat memohon.

“ah!, kau sangat merepot kan, bagaimana aku bisa menyuapi mu jika cat kuku ku masih basah seperti ini!” bentak nya pada Yoo-Geun.

“kenapa kau tidak meminta itu semua padaku?, aku bisa melakukan itu semua untuk mu!” ucapku menenangkan nya.

“tidak hyung, aku sudah banyak merepotkan mu, dan aku yakin bahwa yang bisa melakukan itu semua hanya kau!.” Ucap nya sambil berderaian air mata. Aku kembali memeluk nya.

“tak ada yang kurasakan bahwa kau telah merepotkan ku!, kau Dongsaeng ku, dan apa yang kau pinta, selagi aku bisa memberi, pasti aku beri!, Arra!” ucap ku meyakinkan nya… ia terus menangis di pundak ku.

Malam itu Hujan begitu lebat, bisa di kata itu Badai, petir terus menyambar, dan  lampu padam, di rumah hanya ada aku dan Yoo-Geun, dan kini Yoo-Geun sedang ada di kamar nya, dan saat itu pula aku tak mendengar suara nya, setidak nya ia akan menjerit jika lampu padam, tapi kali ini tidak, tak ada suara nya, dan di rumah itu sepi senyap, serasa hanya aku yang ada di rumah itu. Aku pun menuju kamar Yoo-Geun, aku harap ia telah tidur, dan aku bermaksud untuk membawa nya ke kamarku jika ia tidur. Saat ku buka pintu, Yoo-Geun memang terlelap, tapi ia tertidur di ubin, saat itu sangat gelap, penerangan lilin membuat mataku buram, aku langsung menggendong Yoo-Geun,  ku rasakan wajah nya yang menempel di pundak ku sangat basah, dan ku rasa itu hanya keringat atau iler yang keluar dari mulut nya, dan aku pun membawa ke kamar ku, setelah ku baringkan di kasur ku, ternyata wajah Yoo-Geun sudah bersimbah darah!, aku panik, aku sangat panik, sampai-sampai tak tau harus berbuat apa, aku menangis, sambil mengguncang-Gungcangkan tubuh Yoo-Geun, ternyata ia muntah darah! Dan bersimbah ke seluruh wajah nya, aku mencoba menelpon ambulan, dan ternyata aliran listrik sedang padam, sinyal telpon dan sim telepon genggam ku pun tak bisa di andalkan,  tak ada cara lain, aku pun membawa Yoo-geun yang terbungkus jas hujan menerobos Hujan badai malam itu, lari ke persimpangan jalan, menunggu Taxi yang biasa melintas, tapi malam itu malam yang amat sial, tak ada satu pun taxi yang melintas, aku berlari menuju rumah sakit terdekat, aku tak mau menunggu taxi sia-sia, dan tak mau mengambil resiko yang fatal jika aku terus menunggu lama… ku dengar yoo-geun berkata pelan tepat di telinga ku…

“Gomapseumnida Hyung!, lagi-lagi aku menyusahkan mu!” ucap Yoo-Geun pelan

“bertahan lah Yoo-Geun!, hargai usaha Hyung mu ini! Hyung Mohon!” ucap ku memohon. Yoo-Geun pun mengorok, ku rasa ia telah kecapean, dan ia kembali tertidur… dan aku terus berlari, dan jarak rumah sakit tak jauh lagi, dua persimpangan lagi sudah sampai!, aku semakin semangat,semangat ku mengalahkan sambaran petir yang terus menyambar malam itu.

“Hyung, kau harus jaga mereka! dan kau harus berjanji bisa merubah mereka menjadi keluarga yang dulu!” ucap nya lagi.

“aku tak bisa menjaga mereka seorang diri, yang harus menjaga mereka bukan aku, tapi kita Yoo-Geun!” ucap ku sambil terengah-engah lari kedinginan dengan pakaian yang basah kuyup tanpa jas hujan. Ia kembali tertidur, dan aku mendengar ia mengorok lagi

Kini rumah sakit sudah di depan mata. Para perawat dengan sibuk menyiapkan tandu trolli, dengan siaga mereka langsung membawa Yoo-Geun ke ruang UGD. Dokter mulai memasangkan alat pengukur denyut jantung. Dan aku lihat dokter sendiri kebingungan. Saat di pasang saja garis yang ada di monitor terus berjalan lurus… menandakan tidak ada detak jantung.

“apa alat ini Rusak?” ucap sang dokter bingung. Aku hanya menatap wajah Yoo-Geun yang penuh dengan darah dengan pandangan kosong.

“Yoo-Geun, jika kau cinta aku, sayang aku, dan menghargaiku, bertahan lah!”  ucap ku dalam hati.

“Pasien Yang Bernama Yoo-Geun, Beristirahat dengan damai pada jam KST.22:25” ucap dokter itu dengan lantang namun kelantangan nya itu bersenandung  belasungkawa.

~JJLEEBB!!

Aku langsung tersadar dalam lamunan saat mendengar kata-kata sang dokter.

Yoo-Geun… Beristirahat… Dengan damai…

“Tidak… tidak mungkin, alat itu rusak!, kau pasang lagi cepat alat itu!, CCCEEEPPPAAATTT!!” bentak ku pada doker dan staff-staff nya, aku kalut, jiwa ku melayang, pikiranku tak karuan, Yoo-Geun Meninggal, tidak mungkin, baru saja ia berkata sesuatu pada ku!

“kau telat membawa nya, kau membawa anak ini ke sini dengan keadaan tidak bernyawa!” jelas sang dokter.

Aku terpuruk tepat di samping tandu trolli yang  di tiduri Yoo-Geun, aku menangis tanpa kata, dan tubuh ku menjadi lemas. Sampai-sampai aku tak kuat untuk membopong diri ku sendiri untuk bangun…

Yoo-Geun kau tega padaku… meninggalkan ku sendiri di kehidupan yang hancur ini…!

Pagi itu, kami sekeluarga berkumpul di ruang kremasi, di sana sudah terpampang  foto Yoo-Geun yang sedang berseri, foto nya di kelilingi bunga-bunga cantik berwarna kuning, mungkin aku sudah gila, aku mendengar foto itu berkata padaku…

“Hyung, aku sudah berada di surga, ternyata mimpi itu nyata, aku bertemu dengan kuda UniCorn Bersayap indah,ia lah yang mengantarku sampai surga, dan kini aku berteman dengan UniCorn itu, hidup bersama di surga ini sambil menunggu waktu di saat kau sudah waktu nya kau menyusul ku kesini, akan ku suruh UniCorn ku untuk menjemput mu jika tuhan sudah memanggil mu, kau tak akan pernah menyesal jika kau sudah berada di sini!, surga benar-benar indah!, dan tuhan memberikan semua yang ku ingin kan, termasuk keinginan ku untuk menyatukan keluarga kita seperti dulu lagi, kata tuhan ia akan mengabulkan itu, tunggu waktu akan datang saja kata nya!, oh iya hyung, aku telah membuat Disney Land di sini, suatu saat nanti kita sekeluarga akan berwisata ke disney land buatan ku!. Hyung ternyata benar, bahwa surga itu ada di balik pelangi, maka jika kau melihat pelangi berarti aku sedang menyaksikan mu dari sini!, bersemangat lah hyung! Hwaiting!” itu lah suara yang ku dengar dari foto itu, suara itu suara Yoo-Geun kecil ku.

Kami semua memakai baju adat yang biasa di pakai saat ada anggota keluarga yang meninggal, aku, Appa, Eomma, Donghae Hyung dan Jessica Nunna berjajar tepat di depan foto Yoo-Geun.kami Shalat meminta leluhur kami supaya dapat menjaga Yoo-Geun di alam sana. Setelah itu kami semua berkumpul di ruang tamu, sudah banyak orang yang duduk dengan jamuan dan minuman… kami duduk bersama satu meja, tak saling berani bertatap atau pun bersuara, semua tertunduk malu punuh penyesalan, tapi aku malah merangkul semua nya, dalam rangkulan semua menangis, menangis penuh penyesalan. Dimana Yoo-Geun minta di gendong, minta di peluk,minta di pangku, minta di bikinkan bubur, dan minta di suapi pada hari terakhir nya hidup, tapi mereka tak bisa memberikan permintaan terakhir nya. Tapi untuk apa semua itu di sesali… semua yang terjadi sudahlah lewat… kenang lah saat-saat dimana kami dulu yang harmonis dan saling mencintai.

Keadaan keluarga kami kini berubah pesat, Appa kembali kerumah dan meninggalkan wanita simpanan nya, Eomma menutup salon nya dan memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja, Ssica nunna menjadi orang yang bertakwa dan menjadi anak rumahan setelah ia di tinggalkan kekasih nya yang meninggalkan nya begitu saja setelah merenggut keperawanan nya, donghae hyung, ia berhenti kuliah dan memutuskan bekerja bersama appa, ia berubah total menjadi Namja dewasa.

Dan aku, aku tetap menjadi minho yang biasa, menjalani hidup yang dulu, dimana sebelum keluargaku hancur, namun hidup ku ini ada yang kurang… tak ada lagi yang memanggill ku Hyung, dan tak ada lagi yang meminta menuangkan sereal ke mangkuk nya!.

Di mana jasad Yoo-Geun sudah di bakar dan kini menjadi debu… kami bersama-sama pergi ke pantai untuk menabur abu nya ke pantai, saat itu hari sangat cerah tanpa hujan, namun ada yang aneh, sepanjang perjalan kami ke pantai, pelangi nan indah melingkar di angkasa, padahal tak hujan sebelum nya, appa mulai menabur abu Yoo-Geun, dan kami satu persatu kebagian untuk menabur. Setelah itu kami berjalan jalan di pinggiran pantai, saling bergandengan. Ini lah saat-saat yang aku dan Yoo-Geun nantikan.

“Lihat lah ke langit itu!” pinta ku pada mereka, dan mereka mendongak mengamati pelangi yang melingkar indah dan sempurna.

“Yoo-Geun sedang mengintip di balik pelangi itu, karna kami percaya bahwa surga ada di balik pelangi!, dan ayo kita berpelukan!, buktikan bahwa keluarga kita sudah kembali lagi!” ucap ku. Dan mereka tersenyum mendengar kata-kata ku, kami pun berpelukan dengan erat, dan lagi-lagi kami menangis.

“Lihat lah Yoo-Geun!, ini yang kau inginkan bukan?, benar kata mu, Tuhan mengabulkan semua yang kau pinta!, Gomawo Yoo-Geun, Jeongmal Gomawo! Keluarga kita kembali seperti dulu…!!” teriak ku lantang pada udara, berharap Yoo-Geun bisa mendengar teriakan ku itu.

The End

~ by N R N on August 2, 2012.

One Response to “FF : BROKEN LIFE (ONE SHOOT) [ANGS~]”

  1. gw sbg pengkomen pertama! haha 감사함니다 니아로마니아 °(^ᄉ^)°

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: